Jumat, 02 April 2021

Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan

Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan                                      Medan, 2 April 2021

IDENTIFIKASI MANFAAT EKONOMI SUMBER DAYA

HUTAN

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Angelina Dame Ria Munte                                        191201043

Philip Jordan Simanjuntak                                        191201048

Adinda Rahmayani                                                     191201056

Ratna Fadilah                                                             191201058

Taruly Oktavyani Patricya                                      191201112

Daniel Sihombing                                                     191201115

Grace Rama Novelyta Br Sembiring                      191201120

 

Kelompok 3

HUT 4C

 

 


 


PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERAA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan praktikum pemanenan hasil hutan yang berjudul “Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan” ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum pemanenan hasil hutan dan sebagai salah satu syarat masuk praktikum pemanenan hasil hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi praktikum dengan baik begitu juga dengan asisten  praktikum ekonomi sumber daya hutan yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya kemudian dituangkan dalam laporan ini.

Penulis sadar, penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini. Akhir kata, semoga laporan praktikum  pemanenan hasil hutan ini bermanfaat bagi kita semua.

 

                                                                                                Medan,  2 April  2021

 

 

                                                                                                                                                                       Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2

1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................. 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ekonomi Sumber Daya Hutan.......................................... 3

2.2 Perbedaan Manfaat Tangible dan Intangible ..................................... 4

2.3 Manfaat Intangible dan Tangible dari Kemenyan, Bakau dan Damar 5

PENUTUP

3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 7

3.2 Saran.................................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 8






BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hasil hutan juga jelas merupakan sumberdaya ekonomi potensial yang beragam yang didalam areal kawasan hutan mampu menghasilkan hasil hutan kayu, non kayu dan hasil hutan tidak kentara (intangible) seperti perlindungan tanah, pelestarian sumberdaya air dan beragam hasil wisata. Uraian tersebut di atas terungkap bahwa hutan, kehutanan dan hasil hutan sesungguhnya menjadi sumberdaya (resources) yang mempunyai potensi menciptakan barang, jasa serta aktifitas ekonomi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kajian ekonomi akan meliputi semberdaya sendiri-sendiri atau secara majemuk sehingga disebut sumberdaya hutan (Wirahadikusumah, 2013).

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang.  Hutan memiliki peranan penting terhadap keberlangsungan hidup makhluk hidup, tanpanya kehidupan akan sulit untuk dilakukan. Pada dasarnya ekonomi summberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umummnya, karena mengandung sifatsifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau subjek pengetahuan tersendiri (Irundu et al., 2015).

Ekonomi SDH adalah suatu bidang penerapan alat-alat analisis ekonomi terhadap persoalan produksi, permintaan, penawaran, biaya produksi, penentuan harga termasuk dalam kajian ekonomi mikro dan masalah kesejahteraan masyarakat (kesempatan kerja, pendapatan produk domestik dan pertumbuhan ekonomi) yang termasuk dalam kajian ekonomi makro. Kajian ekonomi mikro dalam ekonomi SDH untuk menjawab barang dan jasa hasil hutan apa yang diproduksi sehingga dapat menguntungkan unit usaha (bisnis) sebagai pelaku usaha, sedangkan kajian ekonomi makro akan menjawab bagaimana sumberdaya hutan dimanfaatkan untuk pengertian bahwa sumberdaaya hutan telah memberikan kontribusi bagi tersedianya lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat dan lingkungan bagi masyarakat (Marispatin, 2011).

          Ekonomi SDH sangat mendasar posisinya dalam pengelolaan hutan; tanpa pertimbangan atau analisis ekonomi efisiensi pengelolaan hutan sukar tercapai. Analisis ekonomi SDH dapat diketahui apa yang diusahakan, berapa jumlahnya, kapan ditanam dan kapan dipanen serta berapa harga jual sehingga pengelolaan hutan dapat menguntungkan dan berkesinambungan. Pertimbangan- pertimbangan ekonomi tidak hanya pada kegiatan sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. pemanfaatan hasil hutan, tetapi juga berlaku untuk kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan dalam upaya meningkatkan jasa lingkungan dari hutan (Putra et al., 2015).

Pengelolaan hutan selalu ditujukan untuk mendapatkan manfaat optimum. Memahami manfaat hutan, mengandung arti harus dilakukannya penilaian terhadap semua jenis manfaat yang dapat dihasilkan oleh hutan tersebut, baik yang bersifat manfaat nyata (tangible) maupun tidak nyata (intangible). Ekosistem hutan memiliki banyak unsur dengan hubungan yang komplek, sehingga di dalam kerangka penilaian hutan dibuat suatu klasifikasi sumber manfaat menurut pendekatan ekosistem yang terdiri atas empat kelas, yaitu (1) flora, (2) fauna, (3) fungsi ekosistem, dan (4) sosial budaya. Manfaat yang bersumber dari empat hal tersebut dapat berwujud (a) barang hasil hutan, (b) jasa dan fungsi ekologis, dan (c) simbolik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) untuk menghitung nilai ekonomi (Yulizar et al., 2014).

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian ekonomi sumberdaya hutan?

2. Apa saja jenis jenis ekonomi sumberdaya hutan?

3. Apa saja perbedaan intangible dan tangible dari ekonomi sumberdaya alam?

1.3 Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian ekonomi sumberdaya hutan.

2.      Untuk mengetahui jenis jenis ekonomi sumberdaya hutan.

3.      Untuk mengetahui perbedaan intangible dan tangible dari ekonomi sumberdaya alam.






BAB II

ISI

2.1 Pengertian Ekonomi Sumber Daya Hutan

Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia dalam melakukan pilihan dari berbagai alternatif. Hutan secara konsepsional yuridis dirumuskan di dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Menurut Undang-undang tersebut, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang.

Pada dasarnya ekonomi sumberdaya hutan tidak berbeda dengan ilmu pengetahuan ekonomi pada umumnya, karena sumberdaya hutan mengandung sifat-sifat khas sehingga dipandang dapat dipahami kalau dipelajari sebagai subjek pengetahuan tersendiri. Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible Sumber daya alam dapat dibedakan menjadi sumberdaya yang dapat diperbaharui atau dapat diisi kembali atau tidak akan habis dan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui atau dipulihkan kembali sebagaimana keadaan semula. Biasanya kita kelompokkan sebagai renewable resources, seperti hutan, perikanan, hasil pertanian dan non-renewable resources, seperti biji mineral, bahan bakar fosil dan sebagainya.

Hutan sebagai bagian dari sumberdaya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan lingkungan hidup. Telah diterima sebagai kesepakatan internasional bahwa hutan yang berfungsi penting bagi kehidupan dunia, harus dibina dan dilindungi dari berbagai tindakan yang berakibat rusaknya ekosistem dunia. Hutan memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan. Manfaat hutan tersebut diperoleh apabila hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Fungsi-fungsi ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan nyata apabila pengelolaan sumberdaya alam berupa hutan seiring dengan upaya pelestarian guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

2.2 Perbedaan Manfaat Tangible dan Intangible

Pengelolaan sumberdaya hutan (SDH) selalu ditujukan untuk memperoleh manfaat, baik manfaat langsung (tangible benefits) maupun manfaat tidak langsung (intangible benefit). Untuk memahami manfaat SDH ini maka perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dapat dihasilkan oleh SDH tersebut. Penilaian manfaat barang dan jasa SDH sangat membantu seorang individu, masyarakat atau organisasi dalam mengambil suatu keputusan penggunaan SDH. Setiap jenis sumberdaya hutan memiliki manfaat langsung dan tidak langsung dalam kehidupan.

Manfaat langsung SDH merupakan manfaat yang dapat secara langsung dinikmati dan rasakan. Manfaat ini mencakup manfaat hasil kayu dan hasil hutan non kayu. Hasil hutan kayu yang diperoleh dari proses pemanenan batang kayu umumnya dimaanfaatkan untuk industri alat-alat atau furnitur berbahan dasar kayu. Kayu juga bisa dipakai sebagai bahan bangunan. Untuk hasil hutan non kayu biasanya berupa madu, resin, rotan, gondorukem dan terpentin, buah, kemenyan dan lain sebagainya. Hasil hutan non kayu ini biasanya dipanen untuk diolah menjadi bahan baku suatu produk jadi maupun setengah jadi.

Kemudian ada manfaat tidak langsung SDH. Hal ini dimana adanya fungsi atau keberadaan hutan itu sendiri yang secara tidak langsung memberi manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Ada beberapa manfaat tidak langsung dari SDH yaitu sarana pendidikan, menjadi fungsi hidrologi, penghasil oksigen, fungsi perlindungan lingkungan dan ekosistem, menjadi lokasi sumber keanekaragaman genetik, lokasi pariwisata, mencegah banjir dan erosi, tempat tinggal atau habitat satwa, reboisasi atau penghijauan, dan estetika dan keindahan. Namun karena pemanfaatan manfaat secara tidak langsung dan masih minimnya pengenalan masyarakat terhadap manfaat itu, manfaat tersebut masih dianggap bernilai lebih rendah dari manfaat langsung sehingga kerap kali menimbulkan terjadinya eksploitasi SDH secara berlebihan.

 

 

2.3 Manfaat Intangible dan Tangible Dari Kemenyan, Bakau dan Damar

Pertama yaitu Pohon kemenyan (Sytrax spp), pohon ini dapat dikelola secara langsung (tangible) yakni digunakan sebagai dupa atau campuran rokok kemenyan. Di samping itu, kemenyan juga digunakan sebagai bahan baku dalam industri parfum, obat-obatan, kosmetik, serta farmasi. Juga dalam kedokteran, kemenyan digunakan untuk mengobati gusi bengkak dan luka herpes di  mulut Selain dimanfaatkan secara tangible, pohon kemenyan juga dapat dimanfaatkan secara tidak langsung (Intangible) yaitu pohon Kemenyan berpotensi untuk pohon ornamen, sekat bakar, tanaman penghijauan dan reboisasi, penghara industri pulp serta untuk tujuan rehabilitasi lahan.

Kedua yaitu Pohon Bakau (Rhizophora racemosa). Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sudut sosial, ekonomi, dan ekolcogis. Kayu bakau ini memilki manfaat tangible yakni digunakan baik sebagai bahan bangunan, kayu bakar dan terutama sebagai bahan pembuat arang. Kulit kayu menghasilkan tanin yang igunakan sebagai bahan penyamak. Sebagai kayu bakar masyarakat biasanya memakai jenis Xylocarpus (Niri atau nyirih). Sedangkan untuk pembuat arang biasanya dipakai jenis Rhizophora sp. Satu lagi kegunaan bakau bisa membuat kerta dimana dapat menghasilkan kualitas tinggi kertas, potensi kayu (kayu bangunan dan kayu bakar), pengrajin daun nipah, penangkapan ikan, udang dan kepiting, sedangkan manfaat Intangiblenya ialah pemecah ombak (break water), sebagai penyeimbang ekologis dan sumber (langsung atau tidak langsung) pendapatan masyarakat pesisir. Hutan bakau ini juga sangat berperan penting dalam habitat binatang laut yang berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Juga dapat melindungi pantai dari abrasi laut.

Ketiga yaitu Pohon Damar (Agathis dammara), Salah satu sumber dari HHBK yakni getah dari kayu damar. Melihat potensinya yang melimpah di Indonesia getah kayu damar dijadikan salah satu tanaman hutan yang mampu memberikan produksi baik kayu maupun hasil lainnya (bukan kayu). Dari pohon ini dihasilkan getah yang memiliki kualitas tinggi yang dikenal dengan nama damar. Pohon ini sangat terkenal dengan resin nya. Resin ini berasal dari kulit pohon nya yang diambil dan diolah menjadi kopal. Kopal merupakan suatu cairan tertentu lapisan kertas yang dapat membuat tinta pada kertas tidak menyebar, getah dari kayu damar juga dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan. pangan, tekstil dan lain-lain. Manfaat Intangible Pohon damar sendiri yakni disukai sebagai tumbuhan peneduh taman dan tepi jalan (pinggir kota), hal ini karena damar memiliki tipe tajuk yang tegak meninggi dengan percabangan tidak terlalu lebar, sehigga tampak luas dan besar untuk menutupi permukaan dibawahnya. Tentu pohon ini sangat cocok bila ditanam di hutan kota atau taman kota.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

1. Ekonomi sumberdaya hutan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam memanfaatkan sumberdaya hutan, sehingga fungsinya dapat dipertahankan dan ditingkatkan dalam jangka panjang.

2. Manfaat langsung (tangible) sumberdaya hutan merupakan manfaat yang dapat secara langsung dinikmati dan rasakan.

3. Manfaat tangible pohon kemenyan digunakan sebagai bahan baku dalam industri parfum, obat-obatan, kosmetik, serta farmasi. Juga dalam kedokteran, pohon kemenyan juga dapat dimanfaatkan secara tidak langsung (intangible) yaitu pohon kemenyan berpotensi untuk pohon ornamen, sekat bakar, tanaman penghijauan dan reboisasi, penghara industri pulp serta untuk tujuan rehabilitasi lahan.

4. Kayu bakau ini memilki manfaat tangible yakni digunakan baik sebagai bahan bangunan, kayu bakar dan terutama sebagai bahan pembuat arang, sedangkan manfaat intangiblenya ialah sebagai penyeimbang ekologis dan sumber pendapatan masyarakat pesisir, habitat binatang laut yang berlindung, mencari makan, dan berkembang biak. Juga dapat melindungi pantai dari abrasi laut.

5. Manfaat tangible pohon damar dapat dimanfaatkan sebagai obat-obatan, pangan dan tekstil. Manfaat intangible pohon damar sendiri yakni disukai sebagai tumbuhan peneduh taman dan tepi jalan (pinggir kota).

Saran

Sebaiknya sebagai Mahasiswa Kehutanan mengetahui betapa pentingnya pohon dalam manfaatnya yang beragam yakni manfaat tangible dan manfaat intangible dari beberapa pohon kehutanan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA.

Arianti DO, Idham, Zainal S. 2018. Pemanfaatan Getah Damar Oleh Masyarakat Di Kelurahan Kedamin Hulu Kecamatan Putussibau Selatan Kabupaten Kapuas Hulu. Jurnal Hutan Lestari, Vol. 6 (3) : 464 – 472.

Irundu D, Andi A, Rahmania. 2015. Nilai Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Mirring, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 10(1): 185 – 191.

Masripatin. 2011. Cadangan Karbon pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.

Nurfatriani F. 2016. Konsep Nilai Ekonomi Total Dan Metode Penilaian Sumberdaya Hutan. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 3(1):1-9.

Putra DSA, Dyah AHL, Irfan A. 2015. Kelayakan Finansial dan Prospek Pengembangan Agribisnis Sengon (Albazia falcataria) Rakyat di Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung. JIIA. 3(4): 345 – 353.

Suzana BOL, Timban J, Kaunang R, Ahmad F. 2011. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Hutan Mangrove Di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal ASE, 7(2): 29-38.

Wirakusumah, S. 2013. Mendambakan Kelestarian Sumberdaya Hutan bagi Sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Yulizar, Agus H, Nandi K. 2014. Konservasi Damar Mata Kucing
(Shorea javanica) Berbasis Masyarakat di Zona Tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Media Konservasi. 19(2): 73 – 80.

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 25 Maret 2021

Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

 

Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan                          Medan,  25 Maret 2021

MENANAM POHON BERNILAI EKONOMIS TINGGI

Dosen Penanggung Jawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Angelina Dame Ria Munte                                       191201043

Philip Jordan Simanjuntak                                      191201048

Adinda Rahmayani                                                   191201056

Ratna Fadilah                                                            191201058

Taruly Oktavyani Patricya                                      191201112

Daniel Sihombing                                                     191201115

Grace Rama Novelyta Br Sembiring                     191201120

 

Kelompok 3

HUT 4C

 

 

 







PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERAA UTARA

MEDAN

2021



KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan praktikum pemanenan hasil hutan yang berjudul “Menanam Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi” ini dengan baik dan tepat waktu. Laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum pemanenan hasil hutan dan sebagai salah satu syarat masuk praktikum pemanenan hasil hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian laporan ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi praktikum dengan baik begitu juga dengan asisten  praktikum ekonomi sumber daya hutan yang telah membantu penulis dalam melaksanakan praktikum yang hasilnya kemudian dituangkan dalam laporan ini.

Penulis sadar, penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis sangat mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan laporan praktikum pemanenan hasil hutan ini. Akhir kata, semoga laporan praktikum  pemanenan hasil hutan ini bermanfaat bagi kita semua.

 

                                                                                                Medan,    Maret  2021

 

 

                                                                                                                                                                       Penulis







DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 2

1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................. 2

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi....................................... 3

2.2 Pohon Yang Dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi.................... 3

2.3 Cara Menanam Pohon Yang Bernilai Tinggi...................................... 3

2.4 Jenis Pohon Yang Bernilai Ekonomi Tinggi....................................... 4

2.5 Produk Yang Dihasilkan..................................................................... 5          

PENUTUP

3.1 Kesimpulan.......................................................................................... 6

3.2 Saran.................................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA






PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting dan bermanfaat bagi hidup dan kehidupan baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung dari keberadaan hutan di antaranya adalah kayu, hasil hutan bukan kayu dan satwa. Sedangkan manfaat tidak langsungnya yakni adalah berupa jasa lingkungan, baik sebagai pengatur tata air, fungsi estetika, maupun sebagai penyedia oksigen dan penyerap karbon. Penyerapan karbon sendiri terjadi didasarkan atas proses kimiawi dalam aktivitas fotosintesis tumbuhan yang menyerap CO2 dari atmosfer dan air dari tanah menghasilkan oksigen dan juga karbohidrat yang selanjutnya akan berakumulasi menjadi selulosa dan lignin sebagai cadangan karbon (Masripatin et al,. 2011).

Tanaman hias juga bisa memberikan arti nilai ekonomi. Hal ini karena pada usaha tani budidaya tanaman hias merupakan suatu kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga kerja, sehingga budidaya tanaman hias sebagai penyedia lapangan kerja. Tanaman hias juga mempunyai nilai jual tinggi sehingga menjanjikan keuntungan yang baik dan hasil secara ekonomi tinggi. Arti ekonomi juga ditunjukkan dengan adanya beberapa jenis tanaman yang menghasilkan devisa bagi negara.Tanaman hias adalah tanaman yang memiliki karakteristik morfologi bernilai estetik dan eksotik. Tanaman hias merupakan salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang sangat cerah sebagai komoditas unggulan ekspor maupun untuk pemasaran di dalam negeri (Titiek, 2018).

Nilai kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) bagi sebagian besar penduduk yang bermukim   di   wilayah   Kabupaten   Wonosobo   memiliki   peran   penting, karena   hasilnya  mampu memberikan   konstribusi   finansial   dalam   menunjang   pendapatan   keluarga   petani.   Oleh  karena peranannya  yang  positif  tersebut,  diduga  lebih  dari  50  %  jumlah  kecamatan  yang  berada  di wilayah Kabupaten Wonosobo. Sengon  sebagai  komoditi  ekonomi  dalam  hutan  rakyat  yang dianggap  cukup prospektif  dan menjanjikan dari aspek finansial, pada kenyataannya masih terkendala oleh permasalahan produktivitas. Pertumbuhan   penduduk   dan   tuntutan   kualitas   serta   kuantitas   pangan,   papan   dan   energi   telah menyebabkan   manusia   memanfaatkan sumber   daya   alam   melebihi kapasitasnya. Peningkatan kebutuhan hidup tersebut tercermin dari perubahan antara lain  meliputi peningkatan penggunaan energi dari  bahan  bakar  fosil  maupun  perubahan  penggunaan  lahan.  Kedua  hal  tersebut  dapat  menyebabkan peningkatan  panas  global  yang  selanjutnya  menyebabkan  perubahan  iklim  global,  serta  terjadinya peningkatan luasan lahan kritis (Heru et al., 2019).

            Kurangnya pemahaman petani hutan terhadap kemampuan lahan yang dapat dioptimalkan pengelolaannya sehingga dapat menjadi sumber penghasilan yang menjajikan untuk kehidupan para petani hutan rakyat. Hal mendasar yang masyarakat tidak pahami adalah nilai ekonomi langsung dari hutan rakyat yang dapat memberikan jaminan pendapatan bila hutan rakyatnya dikelolah dengan baik dan berkesinambungan. Beberapa petani hanya mengetahui nilai ekonomi langsung dari tanaman perkebunan seperti kakao, langsat, durian dan cengkeh. Pendapatan petani hutan terbagi atas dua yakni pendapatan dari luar hutan berupa olah lahan perkebunan dan pendapatan dari dalam hutan melalui sistem agroforestri (Irundu et al., 2018).

1.2 Rumusan Masalah

1 . Apa pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi ?

2 . Bagaimana suatu jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi ?

3 . Bagaimana menanam pohon bernilai ekonomi tinggi ?

4 . Apa saja yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi ?

5 . Bagaimana potensi dari produk yang dihasilkan oleh spesies pohon bernilai

     ekonomi tinggi tersebut ?

1.3 Tujuan

1.      Untuk mengetahui pengertian pohon bernilai ekonomi tinggi.

2.      Untuk mengetahui dan mengenali jenis pohon dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi.

3.      Untuk mengetahui cara menanam pohon bernilai ekonomi tinggi.

4.      Untuk mengetahui apa sajakah yang termasuk pohon bernilai ekonomi tinggi.

5.      Untuk mengetahui potensi produk yang dihasilkan oleh spesies tersebut.



PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi

Pohon bernilai ekonomis tinggi adalah pohon yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dalam bidang pemanfaatan hasil hutan baik dari segi kayunya ataupun hasil hutan non kayu yang diperoleh dari suatu pohon atau tanaman.

2.2 Pohon Yang Dapat Dikatakan Bernilai Ekonomi Tinggi

Pohon yang dapat dikatakan bernilai ekonomi tinggi adalah pohon yang mempunyai nilai jual yang tinggi di pasar baik secara nasional maupun internasional. Pohon yang bernilai ekonomi tinggi pasti memiliki manfaat atau kegunaan yang banyak.

2.3 Cara Menanam Pohon Yang Bernilai Tinggi

Penanaman sengon sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Sebelum penanaman, tanah harus dibersihkan dari gulma yang dapat menghambat pertumbuhan dan kelangsungan hidup bibit tanaman. Bibit biasanya ditanam ke lapangan dengan jarak tanam 2 × 2 m – 6 × 6 m. Jarak tanam yang direkomendasikan tergantung pada tujuan pengelolaan. Jarak tanam yang umum digunakan untuk produksi kayu pulp adalah 3 × 3 m. Untuk produksi kayu pertukangan, jarak tanam 6 × 6 m umumnya digunakan pada lahan yang subur. Untuk produksi kayu bulat premium, pohon sengon kadang juga ditanam dalam larikan selebar 10 m, dengan jarak antar pohon dalam larikan 1 m. Di lahan petani, sengon umumnya ditanam dalam blok dengan jarak tanam 2 × 2 m; kadang-kadang ditanam di garis pagar atau batas lahan dengan tujuan untuk diambil kayunya. Di lahan petani dimana pohon sengon tumbuh menyebar dengan jarak tanam yang tidak teratur, sering pula dijumpai anakan alam.

Sistem penanaman pohon Kemenyan secara monokultur dapat dilakukan pada lahan dengan kepemilikan cukup luas maupun lahan perkebunan besar. Pemilihan sistim monokultur sebaiknya mempertimbangkan sistem pengelolaan yang terencana dengan matang, menyangkut biaya, tenaga kerja trampil, pemahaman teknis produksi getah Kemenyan, serta sarana dan prasarana yang menunjang. Efisiensi perlu dipertimbangkan yaitu dengan investasi seminimal mungkin akan dapat menghasilkan nilai usaha seoptimal mungkin.

2.4 Jenis Pohon Yang Bernilai Ekonomi Tinggi

1. Pohon Sengon

Salah satu tanaman kehutanan yang berperan penting dalam sektor industri dan kegiatan ekspor adalah sengon. Sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan salah satu komoditas ekspor potensial andalan pemerintah dan telah menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia karena memiliki manfaat secara ekologis dan ekonomis yang tinggi. Sengon merupakan salah satu tanaman kehutanan tahunan yang relatif lebih pendek masa panennya dibandingkan tanaman kehutanan lainnya. Selain itu budidaya dan pemeliharaannya yang cukup mudah membuat tanaman sengon dijadikan alternatif pilihan oleh petani untuk meningkatkan pendapatannya. Hutan Rakyat adalah tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh perorangan atau rakyat (petani) untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan (Putra et al., 2015).

2. Pohon Kemenyan

Secara ekonomis HHBK memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpeluang untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu HHBK yang banyak dimanfaatkan masyarakat adalah getah kemenyan. Kemenyan ditetapkan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu nabati yang masuk dalam kelompok resin. Getah kemenyan (Styrax spp.) merupakan komoditi khas Sumatera Utara yang bernilai ekonomi tinggi. Kemenyan adalah getah atau resin yang dihasilkan pohon kemenyan (Styrax spp). Pohon kemenyan dikelola dalam bentuk hutan atau kebun campuran. Terdapat empat jenis kemenyan penghasil getah bernilai ekonomis, namun hanya dua jenis utama yang disadap yaitu kemenyan toba (Styrax sumatrana J.J.Sm) dan kemenyan durame (Styrax benzoin Dryand). Di antara keduanya, kemenyan toba lebih disukai karena memiliki kualitas getah yang lebih baik (padat dan jernih) serta harga jualnya relatif lebih tinggi. Permintaan getah kemenyan tetap tinggi namun produktivitasnya menurun. Penurunan produktivitas disebabkan penurunan populasi akibat penebangan, umur tanaman tua dan permudaan yang mengandalkan regenerasi alam (Anas et al., 2017).

3. Pohon Damar

Pohon Damar (Agathis spp.) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan penghasil kayu yang berwarna terang, dikenal sebagai bahan baku vinir yang menarik. Salah satu kegiatan pemanfaatan sumberdaya hutan yang dilakukan masyarakat di zona tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) adalah pengambilan getah damar mata kucing (Shorea javanica). Kegiatan tersebut belum mendapatkan perhatian pihak pengelola sehingga kebijakan pengelolaan hutan lestari yang diambil belum menyentuh masyarakat pengelola damar mata kucing. Sehingga potensi pohon damar yang ada sangat penting untuk diketahui untuk kelangsungan dan keberlanjutan repong damar. Ketergantungan masyarakat sekitar hutan dengan sumberdaya hutan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: adat istiadat dan budaya masyarakat, jenis mata pencaharian, tingkat pendapatan penduduk, tingkat pendidikan dan tingkat pertumbuhan penduduk. Repong damar oleh masyarakat sekitar hutan dijadikan sebagai daerah penunjang perekonomian dan penambah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup (Yulizar et al., 2014).

2.5 Produk Yang Dihasilkan

1. Pohon Sengon

Secara global tanaman sengon dapat diambil kayunya sebagai bahan baku pembuatan veneer, kayu lapis, kayu bulat, bahan baku pembuatan pulp kertas dan lain-lain yang berkaitan dengan industri pengolahan kayu.

2. Pohon Kemenyan

Secara global tanaman kemenyan dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik dan parfum.

3. Pohon Damar

Kayu damar hampir lurus dan berkualitas baik dengan kelas kuat 3 dan kelas awet 4 dan ideal untuk konstruksi lambung kapal pesiar, konstruksi rumah, kayu panel, pembuatan mebel dan bantalan rel kereta api. Kayu damar juga digunakan dalam pembuatan gitar karena sifat resonansinya yang baik. Berbagai jenis damar menghasilkan beragam resin seperti kauri kopal, Manilla kopal dan damar gum. Sehingga genus ini secara ekonomis sangat
penting (Herliyana, 2012).



PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1.      Pohon bernilai ekonomis tinggi adalah pohon yang memiliki nilai tinggi dalam bidang pemanfaatan hasil hutan.

2.      Menanam adalah suatu bentuk kepedulian dan kecintaan manusia terhadap bumi dan juga suatu kebaikan karena dapat memperbaiki fungsi hutan.

3.      Salah satu tanaman kehutanan yang berperan penting dalam sektor industri dan kegiatan ekspor adalah Sengon (Paraserianthes falcataria) yang merupakan salah satu komoditas ekspor potensial di wilayah Indonesia karena manfaat ekologis dan ekonomis yang tinggi.

4.      Kemenyan (Styrax spp.) Merupakan komoditi khas Sumatra Utara yang bernilai ekonomi tinggi karena menghasilkan getah atau resin.

5.      Pohon Damar (Agathis spp.) juga termasuk salah satu jenis tanaman kehutanan bernilai ekonomis tinggi karena menghasilkan kayu berwarna terang dan sebagai bahan baku vinir.

3.2 Saran

Sebaiknya sebagai Mahasiswa Kehutanan mengetahui betapa pentingnya pohon dalam manfaatnya yang beragam yaitu salah satunya sebagai sumber peningkatan ekonmi di Indonesia karena terdapatnya banyak pohon yang bernilai ekonomis tinggi tanpa harus di eksploitasi secara berlebihan.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Anas A, Cut RK. 2017. Faktor-faktor Fenotipe dan Lingkungan Penentu Produktivitas Resin Kemenyan Toba (Styrax sumatrana J. J. Sm). Jurnal Penelitian Kehutanan Sumatrana. 1(1) : 1 – 9.

Baskara M, Wicaksono KP. 2013. Tumbuhan Ficus: Penjaga KeberlanjutanBudaya dan Ekonomi di Lingkungan Karst. Prosiding Temu Ilmiah IPLBI.

Herliyana EN. 2012. Laporan Awal Penyakit Busuk Akar Merah Ganoderma sp. pada Agathis sp. (Damar) di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Sukabumi, Jawa Barat. Jurnal Silvikultur Tropika. 3(2) : 102 – 107.

Heru DR, Susi A, Ragil BWMP. 2019. Kajian Sengon (Paraserianthes falcataria) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi dan Lingkungan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 6(3) : 201 208.

Irundu D, Andi A, Rahmania. 2018. Nilai Ekonomi Langsung Berbagai Sistem Pengelolaan Hutan Rakyat di Desa Mirring, Kabupaten Polman, Sulawesi Barat. Jurnal Hutan dan Masyarakat. 10(1): 185 – 191.

Masripatin dkk. 2011. Cadangan Karbon pada Berbagai Tipe Hutan dan Jenis Tanaman di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan. Bogor.

Putra DSA, Dyah AHL, Irfan A. 2015. Kelayakan Finansial dan Prospek Pengembangan Agribisnis Sengon (Albazia falcataria) Rakyat di Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung. JIIA. 3(4) : 345 – 353.

Yulizar, Agus H, Nandi K. 2014. Konservasi Damar Mata Kucing
(Shorea javanica) Berbasis Masyarakat di Zona Tradisional Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Media Konservasi. 19(2) : 73 – 80.


Identifikasi Manfaat Ekonomi Sumber Daya Hutan

Makalah Praktikum Ekonomi Sumber Daya Hutan                                           Medan , 2 April   20 21 IDENTIFIKASI MANFAAT EKON...